Posted by: Cahya on: 13 April 2011
Mungkin aku pemarah
Tak bisa mencerna segala yang terjadi
Mungkin aku pembenci
Tak pernah melihat sisi kebaikannya
Mungkin aku pendendam
yang takkan memberikan ruang maaf baginya
Segala puja-pujinya adalah dusta nestapa yang sengaja dia tebar untuk membuatku terpesona, hingga akhrinya aku bertekuk di hadapannya.
Saat itu aku membutuhkan kekuatan untuk bangkit, menengadah dan bertumpu di pangkuannya. Disanalah aku menemukan sandaran.
Namun yang terjadi setelah memelukku erat, merayuku hebat, dia menghempaskanku jauh sekali ke lumpur hidup, semakin aku terkulai terpendam tak berdaya. Berteriak pun tak bisa. Ohh sakit sekali, HATI INI BERDARAH
Andainya dia menengok ke belakang, apa yang pernah diucapkan. Tidakkah dia amnesia?
Lalu siapa yang bersilat lidah, memutar balikkan keadaan dan lari dari kenyataan. Pantaskah aku menyebutnya munafik?
Jika aku boleh meminta kepada Tuhan, semoga aku tidak dipertemukan dengannya lagi walaupun di padang mahsyar nanti.
Mata ini terlalu takut untuk melihat wajahnya. Gendang telingaku pun takut pecah mendengar suaranya.
Dan hati ini akan semakin tercabik lalu berdarah mengingat perih dari semua kebohongan dan tipu dayanya.
14 April 2011 at 7:11 am
sabar kk