Mengapa Kau Harus Pergi

Standard

Aku cuma debu jalanan yang selalu terinjak dan diinjak kaki para musafir. Seperti pecahan kaca yang tiada nilai, lalu terbuang ke tempat sampah yang bau busuk menyengat. Aku tak sekuat rahim ibuku yang mengadung 9 bulan hingga masanya tiba, masa di mana aku selalu menyusahkan ibuku. Kini rahim yang kokoh itu telah menyatu dengan bumi, hanya meninggalkan seonggok daging membungkus tulang. Jasad  yang hanya bisa bernafas, meratap, mengangis …. memnyebut namamu yang tiada duanya Ibu.

Mengapa kau pergi begitu cepat,  lebih cepat dari pada aku mengucap janji kepadamu. Mengapa kau selalu diam di saat anakmu menanyakan tntang apa keinginanmu. Oh ya, aku tahu dari tatapan ibu :

Ibu inginkan aku jadi orang yang berguna kan? Jadi orang yang bisa mengulurkan tangan buat orang lain dan tidak pernah menyusahkan mereka, begitu kan?

Ibu juga menginginkan aku jadi orang yang pintar. Tapi siapa yang mau mengajari aku tanpa lembaran rupiah. Siapa yang rela membuang energi demi mencerdaskan si bodoh ini.

Tenang saja ibu. Aku sudah dewasa, sudah bisa mandiri. Aku bisa menasehati diri sendiri.

2 responses »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s