Apakah Saya harus Bersujud di Depan Kamu?

Standard

Ya Tuhan, berat sekali terasa apa yang saya alami sekarang ini. Sebagai insan yang sangat dhaif, saya ingin sekali melakukan sesuatu hal kebajikan dengan sekuat tenaga. Walaupun memang masa lalu saya penuh dengan salah dan dosa, tapi ada saatnya untuk bertaubat dan meminta maaf. Cerita ini adalah murni apa yang sedang saya rasakan. Saya sedang menemui jalan buntu untuk bertukar cerita, meminta pendapat kepada teman-teman terdekat agar apa yang saya alami ini tidak terus berlanjut. Karena apa yang mereka sarankan sangat berat bagi saya untuk melakukannya. Tapi setelah saya mencobanya, memang kenyataan tidak seperti apa yang diharapkan.

Mungkin dengan menulis kisah ini di blog, kegelisahan yang saya rasakan akan sedikit memudar. Dan semoga “Dia” juga melihat tulisan ini, lalu  mengerti begitu besarnya harapan saya untuk bisa berhubungan baik lagi seperti dulu, sekedar berteman dan bersahabat. Bisa berbagi cerita, bercanda dan tertawa kembali. Saya tahu semua yang terjadi adalah kesalahan , keegoisan dan kesombongan saya. Saya mencoba untuk memperbaikinya, tapi sepertinya rasa malu yang teramat besar menutupi niat saya memperbaiki kesalahan yang menyebabkan keretakan diantara kita. Tapi saya yakin bahwa kamu adalah sosok penyabar, pemaaf dan penebar kasih sayang pada sesama.

Saya merasa rindu dengan message , tertawa waktu telpon dan deretan emotion kala kita chatting. Tapi sayang sekali kebiasaan itu sudah hampir 8 bulan tidak pernah terjadi lagi.

Andai saja saya harus bersujud di hadapan kamu sebagai permintaan maaf dan setelahnya kita akan kembali seperti dulu, saya rela melakukannya. Atau mungkin saya berteriak di depan umum meminta maaf kepada kamu, itupun akan saya lakukan. Semua bukan reakayasa karena ingin mencapai gol, tapi saya benar-benar ingin dimaafkan.

Saya tidak tahu apa yang kamu alami setelah tersakiti hati dan perasaannya. Tapi saya sekarang mengerti begitu hebatnya sosok kamu yang sangat tabah dan sabar menghadapi cercaan yang saya lontarkan. Saat itu saya benar-benar hilang kendali, tanpa tahu arah tujuan pembicaraan. Saya juga melalaikan serta tidak menanggapi kamu selama berbulan-bulan. Jadi kesalahan jelas ada pada saya, tapi malah kamu yang terus meminta maaf waktu itu . Harusnya saya malu sekali karena sayalah yang harus meminta maaf kepada kamu.

Cerita ini seolah-olah tidak ada awal dan akhir. Secara spontanitas dan tanpa editing saya menumpahkan apa yang ada dipikiran saat ini. Ingin sekali saya bercerita panjang saat melewati semuanya. Tapi apalah arti cerita saya ini buat kamu, jika kamu tetap pada pendirian.

Maka, maafkanlah saya. Kembalilah kita seperti dulu yang seolah-olah tiada perselisihan. Saya rindu kamu sahabat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s