Monthly Archives: March 2011

8 Photoblog Yang Layak Anda Kunjungi

Standard
Pernah mendengar istilah photoblog? Kalau belum, photoblog adalah blog yang berfokus pada foto. Blog pada umumnya menitikberatkan isi pada tulisan dan artikel, sementara photoblog benar-benar terfokus pada foto. Photoblog membiarkan foto yang berbicara, sementara teks tertulis hanyalah tambahan minor yang tidak harus ada. Seperti kata orang bijak, “sebuah foto bermakna ribuan kata-kata”.

8 photoblog dibawah ini adalah blog foto terbaik yang memang sudah diakui, maka anda-pun layak mengunjunginya sebagai bahan inspirasi dan tentu saja menghibur mata. Tanpa banyak bicara langsung saja, silahkan:

1. The Big Picture (Photojurnalisme)

The big picture adalah photoblog milik harian Boston Globe. Menurut saya pribadi, The big picture adalah salah satu photoblog terbaik didunia, kalau bukan yang terbaik. Blog foto ini memamerkan karya fotografer terkemuka dari agensi foto terkenal macam Getty Images, Magnum, AP dll. Dengan kualitas foto yang fantastis, dramatis serta ditampilkan dalam ukuran super besar, kita serasa hadir di lokasi berita. Kalau anda penikmat foto dan sekaligus berita serta malas membaca artikel yang panjang, silahkan nikmati photoblog satu ini. Read the rest of this entry

Advertisements

Stage Photography

Standard

Sementara lagi bingung mikirin cara cari dana buat beli Lensa, saya baca-baca dulu cara mengambil gambar panggung (Stage Photography)

Pemotretan seperti ini memiliki tingkat kesulitan tersendiri, antara lain karena

  • Cahaya yang tidak merata
  • Penyanyi, penari, atau pemain yang selalu bergerak
  • Jarak yang jauh antara fotografer dan panggung
  • Waktu yang terbatas

Beberapa hal yang perlu dilakukan jika hendak melakukan pemotretan penampilan di panggung:

1. Datang lebih awal, tujuannya untuk melakukan survei lokasi & memperoleh tempat terbaik untuk memotret. selama pertunjukan, mungkin Anda tidak dapat berpindah tempat karena penuh, jadi pastikan untuk memproleh tempat terbaik sejak awal.

2. Sedekat mungkin dengan panggung, tujuannya agar pemotretan tidak terhalang oleh pemirsa atau aktivitas lainnya. Jarak juga berpengaruh pada pencahayaan dan ketepatan fokus

3. Gunakan shutter speed priority, (mode S atau Tv) tujuannya agar diperoleh kecepatan yang cukup untuk mencegah motion blur akibat gerakan penampil. Idealnya, diperlukan speed 1/40 s atau lebih cepat. Usahakan untuk memperoleh speed ini dengan menggunakan bukaan terlebar dan naikkan ISO secukupnya, Pemilihan speed yang tepat juga bisa menampilkan gerakan (motion blur) di panggung.

4. Metering centre weighted, disebabkan biasanya lokasi di sekitar penampil utama memperoleh penerangan lebih kuat sedangkan lokasi lain cenderung gelap. Average atau matrix metering akan beresiko over-exposed pada penampil utama sedangkan spot metering justru akan menyebabkan bagian lain panggung terlalu gelap (under-exposed)

5. Jangan menggunakan flash, karena penggunaan flash mungkin mengganggu konsentrasi penampil dan mengurangi suasana pencahayaan panggung yang sesungguhnya (ambience). Penggunaan flash juga beresiko interferensi dengan flash lain sehingga foto menjadi gelap. Lebih baik menggunakan ISO tinggi (800 , atau lebih) untuk memperoleh foto yang lebih mendekati kenyataan.

6. Custom White Balance, pencahayaan panggung yang berubah-ubah sering mengacaukan fungsi AWB, oleh karena itu sebaiknya gunakan Custom White Balance dengan menggunakan Grey Card atau lakukan setting Kelvin WB pada 2900-3600 K.

7. Manual fokus, diperlukan jika lensa tidak dilengkapi USM atau SSM yang memungkinkan respon cepat. Penampil yang selalu bergerak dan pencahayaan yang tidak merata sering menyulitkan reaksi lensa sehingga banyak momen terlewat.

8. Potret sebanyak-banyaknya, merupakan kiat untuk memperoleh lebih banyak potensi momen terbaik. Manfaatkan waktu Anda untuk memperoleh lebih banyak foto & jangan habiskan untuk me-review (monkeying). Review singkat diperlukan untuk memperoleh setting yang tepat, selain itu gunakan untuk memotret.

9. Apabila memungkinkan, potretlah penampil saat bersiap naik ke panggung atau saat istirahat. Pada situasi di luar panggung, ada lebih banyak kesempatan memperoleh foto yang tajam dengan ekspresi yang menarik.

Sumber : http://fotografi-dasar.blogspot.com/

Panduan memilih lensa DSLR

Standard

Ada banyak jenis dan macam lensa kamera DSLR. Selain berbeda jenis atau tipenya, perbedaan harga pun amat mencolok, mulai dari kurang dari satu juta hingga ratusan juta rupiah. Hal ini bisa membuat bingung mereka yang berencana membeli kamera DSLR atau menambah koleksi lensanya. Bila di artikel lalu kami sudah sajika cara menilai kualitas lensa DSLR, kini kami hadirkan panduan dalam memilih lensa DSLR. Selamat membaca..

Panduan yang kami susun kali ini bersifat umum dan simpel, tidak seperti panduan sebelumnya yang khusus membahas lensa Canon dan Nikon saja. Di artikel kali ini kami golongkan lensa DSLR dalam berbagai kelompok utama, yaitu berdasarkan diameternya, berdasarkan jenisnya dan berdasarkan bukaan diafragmanya.

Diameter Lensa

Pertama, berdasarkan diameter lensa, kini dikenal dua golongan umum yaitu :

  • lensa full-frame (35mm)
  • lensa crop sensor

Untuk lensa full-frame, diameter optiknya lebih besar daripada lensa crop sensor. Hal ini karena lensa full-frame didesain untuk bisa dipakai di DSLR full-frame dan SLR film 35mm. Di pasaran, kita perlu mengenali kode yang menunjukkan lensa full-frame, misalnya EF untuk Canon, FX untuk Nikon, DG untuk Sigma dsb.

Sedangkan lensa crop sensor berukuran lebih kecil, didesain untuk DSLR dengan sensor yang lebih kecil dari sensor full-frame, yaitu sensor APS-C (Canon, Nikon, Pentax, Sony) dan sensor Four Thirds (Olympus). Lensa ini memiliki diameter yang lebih kecil dari lensa fll-frame, meski tetap memiliki desain mounting yang sama. Artinya, kita bisa saja memasang lensa crop sensor ini pada DSLR full frame, namun pada hasil fotonya akan terdapat lingkaran di bagian luar foto (vignetting) akibat ukuran sensor yang lebih besar dari diameter lensa. Lensa crop sensor ini dikenali dari kodenya seperti EF-S untuk Canon, DX untuk Nikon, DC untuk Sigma, DA untuk Pentax dsb.

sensor01

Gambar di samping menunjukkan perbedaan ukuran antara sensor APS-C dan sensor full-frame 35mm. Lingkaran merah menunjukkan diameter lensa full-frame dan lingkaran hijau menunjukkan diameter lensa crop. Tampak kalau diameter lensa crop telah didesain untuk menyesuaikan ukuran bidang sensor APS-C yang memang lebih kecil dari sensor 35mm. Adakalanya pemilik kamera APS-C justru memakai lensa full frame. Hal ini disebabkan karena untuk kebutuhan profesional kebanyakan lensa yang tersedia adalah lensa full-frame. Contohnya, untuk kebutuhan profesional, pemakai kamera EOS 7D akan memilih lensa EF 70-200mm.

Jenis fokal lensa

Ditinjau dari jenis lensa, ada dua kelompok utama yaitu lensa fix (prime) dan lensa zoom. Simpel saja, lensa fix artinya hanya memiliki satu nilai panjang fokal, sedang lensa zoom bisa berubah dari fokal terpendek hingga terpanjang. Lensa zoom sendiri terbagi atas beberapa rentang fokal, seperti zoom wide, zoom normal dan zoom tele. Ada juga lensa sapu jagad, alias bisa bermain zoom dari wide hingga tele yang praktis untuk dibawa bepergian. Kali ini kami uraikan untung rugi dari tiap pilihan yang ada :

Lensa prime / fix

fixPentax 70mm f/1.4

Lensa prime adalah lensa yang hanya punya satu nilai fokal, misal 35mm, 50mm, 100mm dsb. Lensa jenis ini umumnya punya bukaan maksimal yang besar, misal f/1.4 atau f/1.8 sehingga cocok untuk dipakai saat low light. Meski ada berbagai macam pilihan fokal dari lensa fix di pasaran, namun yang paling populer adalah lensa 50mm karena punya fokal dengan perspektif normal.

Daya tarik dari lensa fix diantaranya :

  • relatif murah
  • ukurannya kecil dan ringan
  • hasil foto sangat tajam
  • karena punya bukaan besar, bisa menghasilkan DOF yang tipis
  • karena punya bukaan besar, bisa diandalkan untuk low light

Adapun hal yang kurang menyenangkan dari lensa fix adalah lensa ini tidak bisa berganti fokal sehingga untuk merubah posisi fokal kita harus maju atau mundur terhadap objek.

Lensa zoom wide

wideSony SAL DT 11-18mm f/4.5-5.6

Lensa zoom wide dalah lensa zoom yang memiliki rentang fokal wideangle mulai dari 10mm hingga 30mm, sehingga cocok untuk landscape dan arsitektur meski kurang cocok untuk potret karena adanya distorsi.

Daya tarik lensa zoom wide diantaranya :

  • mampu menghasilkan foto dengan angle dengan kesan luas dan dramatis
  • cocok untuk kebutuhan profesional dan komersil

Namun demikian lensa zoom wide dijual dengan harga yang relatif mahal karena tingginya tingkat kesulitan dalam mendesain lensa tersebut. Di pasaran, lensa semacam ini dijual di kisaran harga 6 juta hingga 12 juta rupiah.

Contoh lensa zoom wide :

  • Canon EF-S 10-22mm f/3.5-4.5
  • Nikon AF-S 10-24mm f/3.5-4.5
  • Pentax DA 12-24mm f/4
  • Sony SAL-DT 11-18mm f/4.5-5.6
  • Olympus Zuiko 9-18mm f/4-5.6
  • Rekomendasi untuk 3rd party : Tokina 11-16mm f/2.8

Lensa zoom normal/standar (general purpose)

normalZuiko 14-54mm f/2.8-3.5

Read the rest of this entry

“Error 70” ! Ada apa gerangan dengan Kameraku?

Standard

Hari itu, Minggu jam 22.30,  saya jalan-jalan sambil membawa kamera 500D yang 2 minggu lalu baru saya beli. Dengan ditemani seorang sahabat, Pace pangilannya (tetangga saya di Jakarta) kamipun menuju daerah menteng, pilihan kami akhirnya berhenti di Taman Suaropati. Di sana banyak orang yang mayoritas muda-mudi sedang bermain di taman melepas penat, berlatih alat musik atau sekedar ngobrol bersama teman atau pasangannya.  Suasanapun makin ramai ketika para pedagang lalu lalang menawarkan dagangannya seperti kopi, pop mie dan makanan ringan lainnya.

Dengan berbekal EOS 500D dan Sony Alpha (punya Pace) kami iseng mengambil gambar disekitar taman tersebut. Setelah beberapa kali mengamil objek lampu taman, tiba-tiba kamera saya keluar tulisan “Error 70, Shooting is not possible due to an error. Turn the camera off and on again”, sehingga untuk bisa memakai kamera kembali harus mematikan on/off -nya terlebih dahulu. Pop up yang keluar di layar saya ilustrasikan seperti gambar di bawah :

Ini bukanlah kejadian pertama kali buat saya. Sebelumnya, tepatnya setahun yang lalu saya mempunya EOS 1000D juga pernah keluar “Error 99”. Untuk kasus 1000D ini saya mencari tahu dan dari informasi yang saya dapatkan, error tersebut disebabkan karena kontak lensa dengan kamera yang kurang tepat.

Bagi saya yang awam dengan kamera dan troubles-nya sangatlah kebingungan dan ketakutan, jangan-jangan kamera saya rusak :(. Tapi dengan mengeja terbata-bata tulisan yang ada di layar tersebut,  saya mulai mematikan kamera kemudian menyalakannya kembali. Saya kira tidak akan terjadi apa-apa lagi setelah melakukan perintah yang tertera di pop up layar tadi. Ternyata berulang-ulang sampai beberapa kali. Akhirnya saya pun memutuskan untuk pulang saja. Sedikit was-was dan kesal karena kejadian tadi, ditambah di tengah perjalanan tiba-tiba hujan turun mengguyur kami sampai tiba di depan warung tetangga.

Kami pun lantas masuk ke rumah masing-masing. Di kamar saya tidak lekas tidur karena terus kepikiran masalah kamera :D.

Keesokan harinya saya mebuka memory dari kamera untuk mem-backup datanya terlebih dahulu lalu diformat. Namun yang terjadi adalah hal yang aneh buat saya. Meng-copy data 215MB saja sampai membutuhkan waktu 7-8 menit. Padahal biasanya data berukuran 400MB saja tidak sampai 1 menit. Saya memutuskan untuk memformat memori. Lagi-lagi saya kaget karena memory tidak bisa diformat, “Protected”. Ya Tuhan apa yang terjadi.

Saya terus mencari informasi tentang error yang terjadi. Dari informasi yang didapat dari situs www.canon.co.uk , sementara ini menyimpulkan error yang terjadi karena memory.

Sejak kejadian itu saya belum memakai kameranya lagi, takut kenapa-kenapa :D. Mudah-mudahan saja tidak terjadi apa-apa dengan kameraku dan besok bisa memakainya kembali.