Bleeding Heart

Standard

source

Mungkin aku pemarah

Tak bisa mencerna segala yang terjadi

Mungkin aku pembenci

Tak pernah melihat sisi kebaikannya

Mungkin aku pendendam

yang takkan memberikan ruang maaf baginya

 

Segala puja-pujinya adalah dusta nestapa yang sengaja dia tebar untuk membuatku terpesona, hingga akhrinya aku bertekuk di hadapannya.

Saat itu aku membutuhkan kekuatan untuk bangkit, menengadah dan bertumpu di pangkuannya. Disanalah aku menemukan sandaran.

Namun yang terjadi setelah memelukku erat, merayuku hebat, dia menghempaskanku jauh sekali ke lumpur hidup, semakin aku terkulai terpendam tak berdaya. Berteriak pun tak bisa. Ohh sakit sekali, HATI INI BERDARAH

 

Andainya dia menengok ke belakang, apa yang pernah diucapkan. Tidakkah dia amnesia?

Lalu siapa yang bersilat lidah, memutar balikkan keadaan dan lari dari kenyataan. Pantaskah aku menyebutnya munafik?

 

Jika aku boleh meminta kepada Tuhan, semoga aku tidak dipertemukan dengannya lagi walaupun di padang mahsyar nanti.

Mata ini terlalu takut untuk melihat wajahnya. Gendang telingaku pun takut pecah mendengar suaranya.

Dan hati ini akan semakin tercabik lalu berdarah mengingat perih dari semua kebohongan dan tipu dayanya.

 

 

 

One response »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s