Category Archives: Consciences

Thanks for Money-Shirt (Meracau)

Standard

Dan mulailah saya bosan dengan komitmen. Mulut sampe berbusa untuk saling meyakinkan, bahkan sayalah yang diyakinkan akan hal yang sangat diidam-idamkan. Tapi begitu cepat sekali ada perubahan. Oh ya! saya tahu penyebabnya. Saya tidak pintar, tidak bertitel, tidak punya pekerjaan mapan dan tetntunya tampang fisik yang membosankan. Beberapa dari yang disebutkan itu bukankah nasib? Dan bukankah nasib itu¬† bisa dirubah. Oh mungkin saya terlalu banyak menyalahkan orang lain. Seharusnya saya banyak bercermin ūüėÄ

Advertisements

Perfect Numbers and Time to Say Good Bye

Standard


Rabu, tepatnya 15 Februari 2012 rencananya lari dari kesibukan sehari-hari.¬† Tapi bingung mau kemana kalau misalkan pergi refreshing, habisnya ga biasa jalan-jalan sih (kuper).¬† Kalau saja ada yang mengajak atau mau diajak menemani sepertinya asik juga :D. Pasalnya hari itu sekaligus mau menghabiskan waktu bersama 500D tersayang, karena 15 Februari besok¬† adalah hari terakhir memilikinya. Sedih memang barang kesayangan harus lewat ke tangan orang lain. Tapi sikon yang memaksa harus berbuat seperti itu. I apologize¬† my 500D. Tidak ada rencana sebelumnya untuk menjual 500D.¬† Bila sudah kepepet masalah keuangan ya jadinya seperti itu. Sebetulnya sudah ditawarkan beberapa waktu yang lalu kepada teman-teman, tapi jodohnya ternyata bulan ini. Tidak disadari,¬† 1 tahun sudah memiliki 500D. 15 Februari 2011 adalah tanggal pembelian yang tertera pada bon transaksi dan segel. Yah…mau gimana lagi alurnya harus seperti itu.¬† Setahun yang lalu merasa sedih sekali, kesepian dan terlintas untuk membeli kamera yang akan selalu menemani. Saat itu bertepatan dengan tanggal keramat :p (jangan bertanya). Sudahlah,,,makin sedih jadinya. Semoga bisa membeli lagi kamera satu saat nanti. Berdoa, semoga ke depan semakin baik di segala hal. Bekerja lebih semangat, kesehatan jasmani & rohani/ akhlak & ibadah makin baik, makin banyak teman, mendapatkan satu teman special ehehe :D. Amiin

MON HAYATI (LAGU ACEH)

Standard

Source : Google (edited)

Hari ini saat saya main game online,¬† seorang laki-laki tengah baya menghampiri lalu Handphone-nya minta diisiin lagu daerah. Beliau bilang, “Dek, tolong HP saya isiin lagu campursari sama tarlingan dong, terus sisanya dangdutan kaya rhoma irama gitu deh”. Sekitar 20 menit kemudian,¬† proses copy lagu ke memory card pun selesai kemudian saya mengembalikannya. Sambil melihat-lihat file¬† lagu daerah koleksi di komputer saya,¬† secara tidak sengaja menemukan sebuah judul lagu “Mon Hayati” yang sudah lama sekali tidak saya putar. Hal ini karena saya lupa judulnya kalau mau search file di folder.¬† Lagu ini saya copy tahun 2007 dari seorang teman,¬† Afrizal, asli orang Aceh dan merantau di Jakarta.¬† Saya pernah minta terjemahan lagu ini kepada Afrizal secara lisan, tapi¬† sayang sekali sekarang¬† sudah lupa sama sekali. Tapi isinya sih bertema Islami. Kalau saja saya bertemu Afrizal lagi pasti saya menanyakan¬† terjemahan lagu “Mon Hayati” ini. Saya rindu sekali kepada Afrizal. Dia teman yang sangat baik, tidak pemarah, penuh senyuman di wajahnya yang putih bersih dan ganteng. Kabar gembira yang saya dengar, Afrizal sudah menikah dan dikaruniai seorang anak, Alhamdulillah :). Kalau lagi kangen Afrizal, saya selalu play lagu“Mon Hayati”. Semoga Afrizal selalu dalam kebahagiaan dan keberkahan bersama keluarga tercinta. Saya akan selalu merindukanmu sahabatku.

Ingin sekali punya banyak lagu daerah Aceh, tapi saya cuma dapat beberapa saja termasuk yang ada di blog  acehdalamsejarah.blogspot.com.

Tenggelam

Standard

source

Aku tak ingin menyelami air yg dalam
Telah tenggelam dua kali
Dan takut untuk ketiga kalinya

Aku kehausan
Tapi harus menelan air kepahitan
Padahal kuingin manisnya madu kecintaan
Saat itulah telinga kusumbat dan mata kupejamkan
Namun tetap mendengar dan melihat hal kegetiran
Makin terombang ambing tak berdaya
terhempas ke bebatuan
Terjerat jaring-jaring perangkap penakluk.
Meranalah….
Menangispun tak bisa
Terlalu banyak air tertumpah ke rongga-rongga tubuh ini
Sesak, pengap, mencuat menghimpit dada

Bleeding Heart

Standard

source

Mungkin aku pemarah

Tak bisa mencerna segala yang terjadi

Mungkin aku pembenci

Tak pernah melihat sisi kebaikannya

Mungkin aku pendendam

yang takkan memberikan ruang maaf baginya

 

Segala puja-pujinya adalah dusta nestapa yang sengaja dia tebar untuk membuatku terpesona, hingga akhrinya aku bertekuk di hadapannya.

Saat itu aku membutuhkan kekuatan untuk bangkit, menengadah dan bertumpu di pangkuannya. Disanalah aku menemukan sandaran.

Namun yang terjadi setelah memelukku erat, merayuku hebat, dia menghempaskanku jauh sekali ke lumpur hidup, semakin aku terkulai terpendam tak berdaya. Berteriak pun tak bisa. Ohh sakit sekali, HATI INI BERDARAH

 

Andainya dia menengok ke belakang, apa yang pernah diucapkan. Tidakkah dia amnesia?

Lalu siapa yang bersilat lidah, memutar balikkan keadaan dan lari dari kenyataan. Pantaskah aku menyebutnya munafik?

 

Jika aku boleh meminta kepada Tuhan, semoga aku tidak dipertemukan dengannya lagi walaupun di padang mahsyar nanti.

Mata ini terlalu takut untuk melihat wajahnya. Gendang telingaku pun takut pecah mendengar suaranya.

Dan hati ini akan semakin tercabik lalu berdarah mengingat perih dari semua kebohongan dan tipu dayanya.

 

 

 

Revolusi Diri? So what gitu loh…!

Standard

Hidup adalah kegelapan jika tanpa hasrat dan keinginan. Dan semua hasrat -keinginan adalah buta, jika tidak disertai pengetahuan . Dan pengetahuan adalah hampa jika tidak diikuti pelajaran. Dan setiap pelajaran akan sia-sia jika tidak disertai cinta (KG).

Banyak yang harus diselamatkan kemudian masih bisa dipertahankan bagi semua konteks kebangkitan. Tak dipungkiri segala kekeliruan/kekhilafan yang berlalu selalu berdampingan erat dengan diri yang goyah dan sedang berjalan mencari arah, tertipu suara-suara sumbang yang ikut memojokkan sehingga dengan mudah terperangkap lalu bisa tertarik/terdorong ke sisi yang berlainan bahkan sampai tersungkur ke lumpur hitam pekat. Peraduan yang sesungguhnya tidak pernah tersentuh sama sekali, selalu dikesampingkan dan diterlantarkan yang mengakibatkan tak satupun ada hasrat hijrah ke titik yang sebenarnya harus dijalani.¬† Kepongahan,¬† keegoan, kesemena-menaan diri telah menutup rapat-rapat pintu masuk bisikan pembawa cahaya dan bisikan kedamaian sesungguhnya. Seorang sahabat berakata. “Jangan lah terlalu dipikirkan apa yang terjadi kemarin, konversi semuanya menjadi energi positif. Melangkahlah lagi dengan kaki yang lebih kuat berbekal keyakinan/harapan akan perubahan yang lebih signifikan. Jangan terpaku/jalan ditempat dengan meratapi masa lalu yang lantas membuat diri makin terkulai tanpa semangat. Ini saatnya “Revolusi Diri” & “Kebangkitan Diri. Revolusi itu penting dan harus ada sekarang juga”. Terima kasih kawan