Category Archives: Media

Pepatah Bahasa Arab

Standard

1. مَنْ سَارَ عَلىَ الدَّرْبِ وَصَلَ
Barang siapa berjalan pada jalannya sampailah ia

2. مَنْ جَدَّ وَجَدَ
Barang siapa bersungguh-sungguh, dapatlah ia

.
3. مَنْ صَبَرَ ظَفِرَ
Barang siapa sabar beruntunglah ia

.
4. مَنْ قَلَّ صِدْقُهُ قَلَّ صَدِيْقُهُ
Barang siapa sedikit benarnya/kejujurannya, sedikit pulalah temannya.

5. جَالِسْ أَهْلَ الصِّدْقِ وَالوَفَاءِ
Pergaulilah orang yang jujur dan menepati janji.

6. مَوَدَّةُ الصَّدِيْقِ تَظْهَرُ وَقْتَ الضِّيْقِ
Kecintaan/ketulusan teman itu, akan tampak pada waktu kesempitan.

7. وَمَااللَّذَّةُ إِلاَّ بَعْدَ التَّعَبِ
Tidak kenikmatan kecuali setelah kepayahan.

8. الصَّبْرُ يُعِيْنُ عَلىَ كُلِّ عَمَلٍ
Kesabaran itu menolong segala pekerjaan.

9. جَرِّبْ وَلاَحِظْ تَكُنْ عَارِفًا
Cobalah dan perhatikanlah, niscaya kau jadi orang yang tahu.

Read the rest of this entry

Advertisements

MON HAYATI (LAGU ACEH)

Standard

Source : Google (edited)

Hari ini saat saya main game online,  seorang laki-laki tengah baya menghampiri lalu Handphone-nya minta diisiin lagu daerah. Beliau bilang, “Dek, tolong HP saya isiin lagu campursari sama tarlingan dong, terus sisanya dangdutan kaya rhoma irama gitu deh”. Sekitar 20 menit kemudian,  proses copy lagu ke memory card pun selesai kemudian saya mengembalikannya. Sambil melihat-lihat file  lagu daerah koleksi di komputer saya,  secara tidak sengaja menemukan sebuah judul lagu “Mon Hayati” yang sudah lama sekali tidak saya putar. Hal ini karena saya lupa judulnya kalau mau search file di folder.  Lagu ini saya copy tahun 2007 dari seorang teman,  Afrizal, asli orang Aceh dan merantau di Jakarta.  Saya pernah minta terjemahan lagu ini kepada Afrizal secara lisan, tapi  sayang sekali sekarang  sudah lupa sama sekali. Tapi isinya sih bertema Islami. Kalau saja saya bertemu Afrizal lagi pasti saya menanyakan  terjemahan lagu “Mon Hayati” ini. Saya rindu sekali kepada Afrizal. Dia teman yang sangat baik, tidak pemarah, penuh senyuman di wajahnya yang putih bersih dan ganteng. Kabar gembira yang saya dengar, Afrizal sudah menikah dan dikaruniai seorang anak, Alhamdulillah :). Kalau lagi kangen Afrizal, saya selalu play lagu“Mon Hayati”. Semoga Afrizal selalu dalam kebahagiaan dan keberkahan bersama keluarga tercinta. Saya akan selalu merindukanmu sahabatku.

Ingin sekali punya banyak lagu daerah Aceh, tapi saya cuma dapat beberapa saja termasuk yang ada di blog  acehdalamsejarah.blogspot.com.

Leutik-leutik Kuda Kuningan (Kecil-kecil Kuda Kuningan)

Standard

 

 

 

 

 

 

 

 

 

source : google.com

LATAR BELAKANG

Menurut Maria Koniq salah seorang budayawan yang berasal dari Swiss dalam bukunya : Sosicultural : Sundanis, menyebutkan bahwa kebudayaan yang berlangsung ribuan tahun yang bertahan sampai paruh tahun 90-an adalah budaya badarat (berjalan kaki). Hal itu disebabkan di Sunda tidak ada tradisi menaiki kendaraan. Seperti kuda, kerbau, sapi dan gajah atau binantang lainnya.

Hal itu berbeda dengan yang terjadi di kerajaan lainnya di Asia seperti Bengali India. Sebagai alat transfortasinya Gajah. Afrika, khususnya Mesir menggunakan Unta dan Keledai. Begitu pun di daratan Indocina yakni Cina, Kamboja, Vietnam, Thailand dan lainnya lebih kaya dengan alat tunggangan yakni Kuda, Keledai, Gajah, Kerbau, Sapi dan burung.

Pengaruh alat transfortasi darat dengan menggunakan hewan peliharaan ke wilayah-wilayah lain terjadi pada masa muhibahnya orang-orang daratan Indocina ke Asia Tenggara atau disebut ke wilayah selatan Asia. Terjadinya muhibah sekitar abad ke 1200 SM (sebelum masehi). Begitu pun terjadinya gelombang perpindahan penduduk dari India sekitar abad ke V M (Masehi).

Terjadinya perpindahan dari India ke Asia wilayah timur karena terjadi peperangan antar Kerajaan di Bengali (India). Dampaknya, termasuk Nusantara mengalami perubahan dari aspek transfortasi. Semula hanya berjalan kaki dari satu daerah ke daerah lainnya berkembang menggunakan hewan, terutama gajah yang berasal dari India.

Gajah pada masa itu sudah terdapat di kepulauan Sunda Besar dampak dari muhibah dari daratan Indocina. Hal itu diperkuat dalam sejarah kerajaan Nusantara yang pertama yakni Kerajaan Salakanagara yang berada di ujung kulon. Kemungkinan digunakannya Gajah sebagai alat transfortasi khususnya raja-raja dikarenakan dari daerah asal Mulawarman sudah mengenalnya.

Prof. DR. Slamet Mulyana, sejarawan lulusan Belanda dalam bukunya Babad Tanah Jawi dan Sejarah Tionghoa di Indonesia menegaskan. Abad ke IX atau Tahun 1405-1425 M (Masehi), Armada Tiongkok, masa Dinasti Ming di bawah Laksamana Haji Ceng Ho atau Sam Po Bo menguasai perairan dan panta-pantai Nan Yang (Asia Tenggara).

Tahun 1407, merebut Kukang (Palembang sekarang-red). Dan pada Tahun 1413, selama satu bulan singgah di Semarang untuk perbaikan kapal. Dalam perjalanan ini ada beberapa catatan penting yakni adanya penyebaran nilai-nilai arsitektur kepada masyarakat di pulau jawa. Pengenalan mengenai alat transfortasi dengan menggunakan kuda serta penyemaian pohon bambu.

Ketiga aspek itu sangat penting dalam perjalanan peradaban masyarakat di Indonesia, khususnya Sunda. Dilihat dari arsitektur, banyak bangunan peninggalan pada masa itu yang sampai saat ini masih terjaga. Begitu pun dengan tanaman bambu yang menjadi tanaman rakyat dan besar manfaatnya. Begitu pun sarana transfortasi kuda yang masih dapat dirasakan sampai sekarang.

  1. SEJARAH KUDA KUNINGAN

Keberadaan kuda di Kabupaten Kuningan, tidak terlepas dari pengaruh besar Ong Tin Nio atau Nyi Rara Sumanding, istri Sunan Gunung Djati. Pengaruh besar dalam tata kehidupan mulai dari aspek, sosial, ekonomi, politik dan kebudayaan. Namun sepak terjangnya, jarang terungkap. Hal itu disebabkan beliau menjadi aktor di belakang layar.

Maksudnya, sebagai ibunda dari Adipati Kuningan atau Suranggajaya yang dinobatkan sebagai Adipati dan membawahi keadipatian Kuningan. Dalam sejarah Kuningan ada terjemahaan sebagai kearifan lokal bahwa Ong Tin Nio sebagai ibunda asuh. Semula Kuningan terbagi dua kerajaan kecil yakni Kajene dan Luragung dapat disatukan menjadi menjadi satu wilayah yakni Kuningan.

Sejak berdirinya Kerajaan Kajene sekitar abad ke VI M, dan dibawah kekuasaan Kerajaan Galuh. Masyarakatnya tidak mengenal alat transfortasi jalan darat maupun udara. Mereka melakukan perjalanan dengan berjalan kaki. Hal itu berlangsung secara beratus-ratus tahun. Hal itu bukan disebabkan tidak adanya alat transfortasi namun semata-mata belum merasakan manfaatnya.

Mungkin juga disebabkan ketidaktahuan pada masa itu. Namun pada abad ke XIV M, Ong Tin Nio yang datang ke Luragung untuk bertemu dengan suaminya, Sunan Gunung Djati. Baru lah diperkenalkan salah satu alat transfortasi yakni kuda. Kuda pada jaman itu, oleh Ong Tin Nio bukan sebagai alat transfortasi tapi merupakan binatang peliharaan untuk Suranggajaya.

Kuda sebagai alat peliharaan, memang masih asing pada masa itu. Namun sepertinya Ong Tin Nio sudah mengenal kuda. Hal itu disebabkan di wilayahnya memang banyak kuda. Kuda yang diberikan ke Suranggajaya pun berasal dari Campa (sekarang Kamboja). Ia sengaja membawa dari negara asalnya untuk transfortasi darat di daerah tujuannya.

Kuda yang dibawanya pun tidak banyak hanya beberapa ekor saja. Hal itu mengingat perjalanan laut yang lama dan isi kapal tidak memungkinkan. Hanya karena ia seorang perempuan dan terbilang masih putri raja maka disediakan alat itu untuk menempuh perjalanan jauh.

1).  Mengapa Kuda Kuningan Kecil

Kuda Kuningan sejak dahulu dikenal kecil makanya populer dengan sebutan kecil-kecil kuda kuningan. Sebetulnya pada masa Adipati Kuningan, kuda kuningan tergolong besar. Hanya oleh Ong Tin Nio, kuda bawaannya diternakan dengan kuda liar yang ada sejak dahulu kala. Kemungkinan kuda liar itu berasal dari muhibah pada jaman sebelum masehi.

Kuda liar tersebut hidup di sekitar lereng Gunung Ciremai bersama hewan lainnya. Kuda liar tersebut bertubuh kecil karena diperkirakan hasil evolusi seperti teori Darwin. Tubuhnya mengecil karena makanan yang tersedia sangat melimpah. Selain itu, kuda yang berperawakan besar dimangsa oleh binatang lebih besar.

Seperti hasil temuan fosil binatang purba di daerah Maneungteung Kecamatan Cidahu, dan Pasir Ipis Kecamatan Cibingbin. Hasil evolusi ini membawa binatang kuda lebih kecil dari sebelumnya. Sehingga ketika peternakan kuda yang dilakukan Ong tin Nio menjadi beragam. Sesuai hasil perkawinan silang antara kuda bawaannya dengan kuda liar.

2).  Si Windu

Kuda tunggangan milik Adipati Kuningan dikenal dengan nama si Windu. Kuda tersebut dikenal memiliki ketangkasan dalam membantu tuannya melaksanakan tugas kerajaan. Hal itu dibuktikan ketika terjadi peperangan antara Pasukan Kuningan dengan Galuh yang terjadi di Gunung Gundul atawa lebih dikenal dengan sebutan Palagan di Gunung Gundul.

Si Windu menyelamatkan Adipati Kuningan dari jeratan oyong ketika bertarung dengan Patih Arya Kiban dari Kerajaan Galuh. Selain itu membantu pula Adipati Kuningan dalam perang Batavia dengan Portugis. Menghancurkan Kerajaan Pajajaran di Bogor, Demak dan Wilatikta (sekarang Purworejo) Jawa Timur dalam perang melawan Portugis.

Sudah disebutkan di atas, bahwa kuda tunggangan Adipati Kuningan berasal dari Campa yang dibawa Ong Tin Nio sebagai hewan peliharaan. Dengan kata lain, si Windu sudah sangat akrab dengan Adipati Kuningan karena sejak kecil ia sudah mengenal hewan itu.

 

Sumber : wartadesa2007.wordpress.com & Tabloid Empati Edisi XXVI, 8-2011

8 Photoblog Yang Layak Anda Kunjungi

Standard
Pernah mendengar istilah photoblog? Kalau belum, photoblog adalah blog yang berfokus pada foto. Blog pada umumnya menitikberatkan isi pada tulisan dan artikel, sementara photoblog benar-benar terfokus pada foto. Photoblog membiarkan foto yang berbicara, sementara teks tertulis hanyalah tambahan minor yang tidak harus ada. Seperti kata orang bijak, “sebuah foto bermakna ribuan kata-kata”.

8 photoblog dibawah ini adalah blog foto terbaik yang memang sudah diakui, maka anda-pun layak mengunjunginya sebagai bahan inspirasi dan tentu saja menghibur mata. Tanpa banyak bicara langsung saja, silahkan:

1. The Big Picture (Photojurnalisme)

The big picture adalah photoblog milik harian Boston Globe. Menurut saya pribadi, The big picture adalah salah satu photoblog terbaik didunia, kalau bukan yang terbaik. Blog foto ini memamerkan karya fotografer terkemuka dari agensi foto terkenal macam Getty Images, Magnum, AP dll. Dengan kualitas foto yang fantastis, dramatis serta ditampilkan dalam ukuran super besar, kita serasa hadir di lokasi berita. Kalau anda penikmat foto dan sekaligus berita serta malas membaca artikel yang panjang, silahkan nikmati photoblog satu ini. Read the rest of this entry

Stage Photography

Standard

Sementara lagi bingung mikirin cara cari dana buat beli Lensa, saya baca-baca dulu cara mengambil gambar panggung (Stage Photography)

Pemotretan seperti ini memiliki tingkat kesulitan tersendiri, antara lain karena

  • Cahaya yang tidak merata
  • Penyanyi, penari, atau pemain yang selalu bergerak
  • Jarak yang jauh antara fotografer dan panggung
  • Waktu yang terbatas

Beberapa hal yang perlu dilakukan jika hendak melakukan pemotretan penampilan di panggung:

1. Datang lebih awal, tujuannya untuk melakukan survei lokasi & memperoleh tempat terbaik untuk memotret. selama pertunjukan, mungkin Anda tidak dapat berpindah tempat karena penuh, jadi pastikan untuk memproleh tempat terbaik sejak awal.

2. Sedekat mungkin dengan panggung, tujuannya agar pemotretan tidak terhalang oleh pemirsa atau aktivitas lainnya. Jarak juga berpengaruh pada pencahayaan dan ketepatan fokus

3. Gunakan shutter speed priority, (mode S atau Tv) tujuannya agar diperoleh kecepatan yang cukup untuk mencegah motion blur akibat gerakan penampil. Idealnya, diperlukan speed 1/40 s atau lebih cepat. Usahakan untuk memperoleh speed ini dengan menggunakan bukaan terlebar dan naikkan ISO secukupnya, Pemilihan speed yang tepat juga bisa menampilkan gerakan (motion blur) di panggung.

4. Metering centre weighted, disebabkan biasanya lokasi di sekitar penampil utama memperoleh penerangan lebih kuat sedangkan lokasi lain cenderung gelap. Average atau matrix metering akan beresiko over-exposed pada penampil utama sedangkan spot metering justru akan menyebabkan bagian lain panggung terlalu gelap (under-exposed)

5. Jangan menggunakan flash, karena penggunaan flash mungkin mengganggu konsentrasi penampil dan mengurangi suasana pencahayaan panggung yang sesungguhnya (ambience). Penggunaan flash juga beresiko interferensi dengan flash lain sehingga foto menjadi gelap. Lebih baik menggunakan ISO tinggi (800 , atau lebih) untuk memperoleh foto yang lebih mendekati kenyataan.

6. Custom White Balance, pencahayaan panggung yang berubah-ubah sering mengacaukan fungsi AWB, oleh karena itu sebaiknya gunakan Custom White Balance dengan menggunakan Grey Card atau lakukan setting Kelvin WB pada 2900-3600 K.

7. Manual fokus, diperlukan jika lensa tidak dilengkapi USM atau SSM yang memungkinkan respon cepat. Penampil yang selalu bergerak dan pencahayaan yang tidak merata sering menyulitkan reaksi lensa sehingga banyak momen terlewat.

8. Potret sebanyak-banyaknya, merupakan kiat untuk memperoleh lebih banyak potensi momen terbaik. Manfaatkan waktu Anda untuk memperoleh lebih banyak foto & jangan habiskan untuk me-review (monkeying). Review singkat diperlukan untuk memperoleh setting yang tepat, selain itu gunakan untuk memotret.

9. Apabila memungkinkan, potretlah penampil saat bersiap naik ke panggung atau saat istirahat. Pada situasi di luar panggung, ada lebih banyak kesempatan memperoleh foto yang tajam dengan ekspresi yang menarik.

Sumber : http://fotografi-dasar.blogspot.com/

Panduan memilih lensa DSLR

Standard

Ada banyak jenis dan macam lensa kamera DSLR. Selain berbeda jenis atau tipenya, perbedaan harga pun amat mencolok, mulai dari kurang dari satu juta hingga ratusan juta rupiah. Hal ini bisa membuat bingung mereka yang berencana membeli kamera DSLR atau menambah koleksi lensanya. Bila di artikel lalu kami sudah sajika cara menilai kualitas lensa DSLR, kini kami hadirkan panduan dalam memilih lensa DSLR. Selamat membaca..

Panduan yang kami susun kali ini bersifat umum dan simpel, tidak seperti panduan sebelumnya yang khusus membahas lensa Canon dan Nikon saja. Di artikel kali ini kami golongkan lensa DSLR dalam berbagai kelompok utama, yaitu berdasarkan diameternya, berdasarkan jenisnya dan berdasarkan bukaan diafragmanya.

Diameter Lensa

Pertama, berdasarkan diameter lensa, kini dikenal dua golongan umum yaitu :

  • lensa full-frame (35mm)
  • lensa crop sensor

Untuk lensa full-frame, diameter optiknya lebih besar daripada lensa crop sensor. Hal ini karena lensa full-frame didesain untuk bisa dipakai di DSLR full-frame dan SLR film 35mm. Di pasaran, kita perlu mengenali kode yang menunjukkan lensa full-frame, misalnya EF untuk Canon, FX untuk Nikon, DG untuk Sigma dsb.

Sedangkan lensa crop sensor berukuran lebih kecil, didesain untuk DSLR dengan sensor yang lebih kecil dari sensor full-frame, yaitu sensor APS-C (Canon, Nikon, Pentax, Sony) dan sensor Four Thirds (Olympus). Lensa ini memiliki diameter yang lebih kecil dari lensa fll-frame, meski tetap memiliki desain mounting yang sama. Artinya, kita bisa saja memasang lensa crop sensor ini pada DSLR full frame, namun pada hasil fotonya akan terdapat lingkaran di bagian luar foto (vignetting) akibat ukuran sensor yang lebih besar dari diameter lensa. Lensa crop sensor ini dikenali dari kodenya seperti EF-S untuk Canon, DX untuk Nikon, DC untuk Sigma, DA untuk Pentax dsb.

sensor01

Gambar di samping menunjukkan perbedaan ukuran antara sensor APS-C dan sensor full-frame 35mm. Lingkaran merah menunjukkan diameter lensa full-frame dan lingkaran hijau menunjukkan diameter lensa crop. Tampak kalau diameter lensa crop telah didesain untuk menyesuaikan ukuran bidang sensor APS-C yang memang lebih kecil dari sensor 35mm. Adakalanya pemilik kamera APS-C justru memakai lensa full frame. Hal ini disebabkan karena untuk kebutuhan profesional kebanyakan lensa yang tersedia adalah lensa full-frame. Contohnya, untuk kebutuhan profesional, pemakai kamera EOS 7D akan memilih lensa EF 70-200mm.

Jenis fokal lensa

Ditinjau dari jenis lensa, ada dua kelompok utama yaitu lensa fix (prime) dan lensa zoom. Simpel saja, lensa fix artinya hanya memiliki satu nilai panjang fokal, sedang lensa zoom bisa berubah dari fokal terpendek hingga terpanjang. Lensa zoom sendiri terbagi atas beberapa rentang fokal, seperti zoom wide, zoom normal dan zoom tele. Ada juga lensa sapu jagad, alias bisa bermain zoom dari wide hingga tele yang praktis untuk dibawa bepergian. Kali ini kami uraikan untung rugi dari tiap pilihan yang ada :

Lensa prime / fix

fixPentax 70mm f/1.4

Lensa prime adalah lensa yang hanya punya satu nilai fokal, misal 35mm, 50mm, 100mm dsb. Lensa jenis ini umumnya punya bukaan maksimal yang besar, misal f/1.4 atau f/1.8 sehingga cocok untuk dipakai saat low light. Meski ada berbagai macam pilihan fokal dari lensa fix di pasaran, namun yang paling populer adalah lensa 50mm karena punya fokal dengan perspektif normal.

Daya tarik dari lensa fix diantaranya :

  • relatif murah
  • ukurannya kecil dan ringan
  • hasil foto sangat tajam
  • karena punya bukaan besar, bisa menghasilkan DOF yang tipis
  • karena punya bukaan besar, bisa diandalkan untuk low light

Adapun hal yang kurang menyenangkan dari lensa fix adalah lensa ini tidak bisa berganti fokal sehingga untuk merubah posisi fokal kita harus maju atau mundur terhadap objek.

Lensa zoom wide

wideSony SAL DT 11-18mm f/4.5-5.6

Lensa zoom wide dalah lensa zoom yang memiliki rentang fokal wideangle mulai dari 10mm hingga 30mm, sehingga cocok untuk landscape dan arsitektur meski kurang cocok untuk potret karena adanya distorsi.

Daya tarik lensa zoom wide diantaranya :

  • mampu menghasilkan foto dengan angle dengan kesan luas dan dramatis
  • cocok untuk kebutuhan profesional dan komersil

Namun demikian lensa zoom wide dijual dengan harga yang relatif mahal karena tingginya tingkat kesulitan dalam mendesain lensa tersebut. Di pasaran, lensa semacam ini dijual di kisaran harga 6 juta hingga 12 juta rupiah.

Contoh lensa zoom wide :

  • Canon EF-S 10-22mm f/3.5-4.5
  • Nikon AF-S 10-24mm f/3.5-4.5
  • Pentax DA 12-24mm f/4
  • Sony SAL-DT 11-18mm f/4.5-5.6
  • Olympus Zuiko 9-18mm f/4-5.6
  • Rekomendasi untuk 3rd party : Tokina 11-16mm f/2.8

Lensa zoom normal/standar (general purpose)

normalZuiko 14-54mm f/2.8-3.5

Read the rest of this entry

“Error 70” ! Ada apa gerangan dengan Kameraku?

Standard

Hari itu, Minggu jam 22.30,  saya jalan-jalan sambil membawa kamera 500D yang 2 minggu lalu baru saya beli. Dengan ditemani seorang sahabat, Pace pangilannya (tetangga saya di Jakarta) kamipun menuju daerah menteng, pilihan kami akhirnya berhenti di Taman Suaropati. Di sana banyak orang yang mayoritas muda-mudi sedang bermain di taman melepas penat, berlatih alat musik atau sekedar ngobrol bersama teman atau pasangannya.  Suasanapun makin ramai ketika para pedagang lalu lalang menawarkan dagangannya seperti kopi, pop mie dan makanan ringan lainnya.

Dengan berbekal EOS 500D dan Sony Alpha (punya Pace) kami iseng mengambil gambar disekitar taman tersebut. Setelah beberapa kali mengamil objek lampu taman, tiba-tiba kamera saya keluar tulisan “Error 70, Shooting is not possible due to an error. Turn the camera off and on again”, sehingga untuk bisa memakai kamera kembali harus mematikan on/off -nya terlebih dahulu. Pop up yang keluar di layar saya ilustrasikan seperti gambar di bawah :

Ini bukanlah kejadian pertama kali buat saya. Sebelumnya, tepatnya setahun yang lalu saya mempunya EOS 1000D juga pernah keluar “Error 99”. Untuk kasus 1000D ini saya mencari tahu dan dari informasi yang saya dapatkan, error tersebut disebabkan karena kontak lensa dengan kamera yang kurang tepat.

Bagi saya yang awam dengan kamera dan troubles-nya sangatlah kebingungan dan ketakutan, jangan-jangan kamera saya rusak :(. Tapi dengan mengeja terbata-bata tulisan yang ada di layar tersebut,  saya mulai mematikan kamera kemudian menyalakannya kembali. Saya kira tidak akan terjadi apa-apa lagi setelah melakukan perintah yang tertera di pop up layar tadi. Ternyata berulang-ulang sampai beberapa kali. Akhirnya saya pun memutuskan untuk pulang saja. Sedikit was-was dan kesal karena kejadian tadi, ditambah di tengah perjalanan tiba-tiba hujan turun mengguyur kami sampai tiba di depan warung tetangga.

Kami pun lantas masuk ke rumah masing-masing. Di kamar saya tidak lekas tidur karena terus kepikiran masalah kamera :D.

Keesokan harinya saya mebuka memory dari kamera untuk mem-backup datanya terlebih dahulu lalu diformat. Namun yang terjadi adalah hal yang aneh buat saya. Meng-copy data 215MB saja sampai membutuhkan waktu 7-8 menit. Padahal biasanya data berukuran 400MB saja tidak sampai 1 menit. Saya memutuskan untuk memformat memori. Lagi-lagi saya kaget karena memory tidak bisa diformat, “Protected”. Ya Tuhan apa yang terjadi.

Saya terus mencari informasi tentang error yang terjadi. Dari informasi yang didapat dari situs www.canon.co.uk , sementara ini menyimpulkan error yang terjadi karena memory.

Sejak kejadian itu saya belum memakai kameranya lagi, takut kenapa-kenapa :D. Mudah-mudahan saja tidak terjadi apa-apa dengan kameraku dan besok bisa memakainya kembali.